Tuesday, March 31, 2009
KAIN KAFAN TURIN AKAN DIPAMERKAN UNTUK UMUM PADA TAHUN 2010
0 comments Posted by NGKPA Medan Timur at 9:10 AM
Kain Kafan Turin, yang dihormati banyak orang sebagai kain pemakaman Kristus, akan dipamerkan untuk umum pertama kalinya setelah pameran terakhir pada tahun 2000.
Paus Benediktus XVI memaklumkan hal tersebut dalam suatu audiensi bersama para peziarah dari Turin, Italia Utara, pada tanggal 2 Juni 2008. Kepada 7000 peziarah yang berkumpul di Aula Paulus VI, Vatican, Bapa Suci menambahkan, “Jika Tuhan menganugerahi saya hidup dan kesehatan, saya, juga berharap untuk datang.”
Menurut tradisi, kain linen berukuran kurang lebih 14 kali 4 kaki itu adalah kain kafan pemakaman Yesus. Pada Kain Kafan tercetak gambar foto negatif seorang laki-laki, bagian depan dan belakang, yang memiliki tanda-tanda sengsara sesuai dengan yang dikisahkan Injil diderita Yesus dalam sengsara dan wafat-Nya.
Gereja tidak pernah secara resmi memaklumkan keotentikan Kain Kafan, melainkan menyerahkannya pada penelitian ilmiah. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan saling memperdebatkan keotentikannya, dan hasil-hasil penelitian semakin menghangatkan argumentasi mereka.
Kini Kain Kafan disimpan dengan cermat di balik kaca anti peluru dalam suatu kapel khusus di Katedral St Yohanes Pembaptis, Turin. Kain Kafan tersimpan dalam sebuah peti terbuat dari bahan-bahan khusus yang kedap air, kedap api dan disegel rapat kedap udara. Kain Kafan dikeluarkan hanya dalam peristiwa-peristiwa rohani yang amat istimewa; apabila dikeluarkan untuk keperluan penelitian atau pameran umum harus mendapatkan persetujuan paus. Terakhir kali Kain Kafan dipamerkan untuk umum pada tahun 2000 dalam rangka Tahun Yubileum.
Paus Benediktus mengatakan bahwa pameran Kain Kafan akan menjadi “suatu peristiwa yang tepat” bagi umat beriman “untuk merenungkan Wajah misterius yang dalam keheningan berbicara kepada hati umat manusia, mengundang mereka untuk mengenali wajah Tuhan.”
Ya Tuhan, Bapa kami, gambar pada Kain Kafan mengingatkan kami akan sengsara dahsyat yang diderita PutraMu, Yesus, yang menimpakan atas DiriNya dosa-dosa dunia.
Bantulah kami untuk melihat wajah-Nya dalam wajah setiap orang, agar kami dapat melayani-Nya dan memaklumkan kasih-Nya. Anugerahilah kami sukacita merenungkan Wajah Yesus yang bercahaya, sebagaimana Ia bangkit dari antara orang mati. Dia yang hidup dan berkuasa bersama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.
Sunday, March 29, 2009

Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja dan menterinya. Walaupun raja itu kuat dan murah hati, dia memiliki watak yang sedikit keras. Sedangkan menterinya adalah seorang menteri yang arif bijaksana, sabar dan taqwa kepada Tuhan. Dalam urusan setiap hari, raja biasanya berpikir bahwa dirinyalah yang membuat segala sesuatunya terjadi, sedangkan sang menteri memahami bahwa segalanya adalah karunia Tuhan. Walaupun mempunyai perbedaan pendapat seperti ini, raja tetap menghargai menterinya dan mereka bersahabat akrab. Untuk melindungi warga negaranya dari serangan binatang berbahaya, raja dengan membawa busur dan anak panah sering berburu ke hutan bersama sekelompok kecil pasukan dan menterinya selalu menemani sang raja.
Pada suatu hari, ketika mereka pergi berburu, tiba-tiba seekor ular kobra besar menghadang kuda yang sedang ditunggangi oleh sang raja. Ular itu menyebarkan racun dari taring-taringnya. Kuda yang ketakutan kemudian meringkik sambil menaikkan kaki depannya sehingga membuat raja terjatuh di dekat ular kobra dan kobra itu segera menggigit jari telunjuk sang raja, kemudian ular itu pergi. Sang raja mengerti bahwa jika jari telunjuknya tidak segera dipotong, maka racun kobra akan menyebar ke seluruh tubuhnya dan akan sampai ke jantungnya dan akhirnya akan membunuh dirinya. Tanpa ragu sang raja mencabut pedangnya yang tajam dan segera memotong jari telunjuknya. Menterinya kemudian membalut tangan sang raja dan mencoba menenangkannya dengan kata-kata yang bijaksana, “terimalah hal ini hanya sebagai karunia Tuhan, terimalah sebagai salah satu dari rencana-Nya”. Sang raja kecewa dan tidak dapat menghargai pandangan menterinya. “Diam!”, sahut raja. Namun, menteri itu terus berbicara tentang karunia Tuhan sehingga raja menjadi sangat marah dan memberi perintah kepada prajuritnya. “Bawa kembali menteri yang bodoh ini ke kota dan penjarakan dia”. Kemudian dengan mantap sang raja melanjutkan acara berburunya hari itu. Walaupun dengan tangan terbalut, raja terus berburu sendirian mencari binatang buas di dalam hutan yang lebat.
Tidak lama kemudian sang raja yang sendirian ditangkap oleh segerombolan bandit. Mereka mengikat sang raja. Pimpinan bandit berkata kepada raja, “Ini hari mujurmu, aku akan mengorbankanmu kepada Devi Kali dalam pemujaanku. Tidak setiap hari beliau mendapatkan darah raja”. Akan tetapi sang raja menganggap dirinya sangat sial. Dengan kondisi terikat seperti itu dia tidak menemukan jalan selamat dari kematian berdarah di atas altar Devi Kali. Pimpinan bandit memerintahkan anak buahnya, “manusia yang akan kita persembahkan ini hendaknya dimandikan dengan bersih kemudian dibungkus dengan kain baru yang bersih”. Ketika bandit melaksanakan perintah itu, salah seorang diantaranya berteriak, “lihat, ada sebuah jarinya yang hilang”. Ketika memeriksa tangan sang raja, pimpinan bandit menjadi kecewa. “Kita tidak mungkin mempersembahkan manusia yang anggota bandannya tidak utuh kepada Devi Kali. Kalian bodoh! Bebaskan dia dan cari manusia lain”. Tanpa diduga raja dilepaskan dari ikatannya lalu menunggangi kidanya dan berlari cepat kembali ke kotanya.
Sesampainya di kota, sang raja langsung menuju penjara di mana menterinya ditahan dan memerintahkan agar menterinya dibebaskan. Kemudian raja memeluk menterinya dan meminta maaf, “atas karunia Tuhan aku telah kehilangan sebuah jari tanganku dan sebagai akibatnya aku lepas dari maut kematian”. Setelah menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada menterinya, raja diam sejenak lalu berkata, “aku masih bingung, kalau segala sesuatu yang terjadi karena karunia Tuhan, bagimana tentang engkau yang dimasukkan ke dalam penjara?”. Menteri itu menjawab, “kalau anda tidak memenjarakan saya, saya pasti akan bersama anda ketika anda ditangkap, dengan melihat anggota bdan saya yang masih utuh pasti saya yang akan dikorbankan kepada Devi Kali oleh pemuja Kali itu”.
Akhirnya raja dan menteri itu tertawa lebar, air mata membasahi wajah mereka. Bahagia karena masih diberi kesempatan hidup. Mereka berdua setuju bahwa segala sesuatunya pastilah karunia dari Tuhan.
Oleh : I Ketut Lascarya, ST
Labels: agama, cerita rohani, Jari telunjuk, Naposo, NGKPA, Raja
Monday, March 23, 2009

Aku tidak dapat berkata, “Bapa”;
Jika aku tidak dapat menunjukkan hubungan ini dalam kehidupanku sehari-hari.
Aku tidak dapat berkata, “Kami”;
Jika agamaku tidak ada tempat untuk yang lain dan kebutuhan mereka.
Aku tidak dapat berkata, “Yang di Surga”;
Jika semua perhatian dan pencarianku adalah barang-barang duniawi.
Aku tidak dapat berkata, “Dikuduskanlah namaMu”;
Jika aku yang memanggil namaNya belum dikuduskan.
Aku tidak dapat berkata, “datanglah KerajaanMu”;
Jika aku tidak menyerahkan semua kekuasaanku dan menempatkan kuasa Tuhan pada tempatnya.
Aku tidak dapat berkata, “Jadilah kehendakMu”;
Jika aku tidak mau atau marah atas kehendakNya dalam hidupku.
Aku tidak dapat berkata, “Di bumi seperti di surga”;
Jika aku tidak benar-benar siap memberikan diriku sendiri untuk melayaniNya di sini dan saat ini.
Aku tidak dapat berkata, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”;
Jika aku tidak berusaha memenuhinya dengan usaha dan cara yang jujur atau dengan mengabaikan kebutuhan makan dari saudara seiman.
Aku tidak dapat berkata, “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”;
Jika aku terus menyimpan dendam kepada siapapun.
Aku tidak dapat berkata, “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”;
Jika aku dengan sengaja memilih tinggal dalam suatu situasi di mana aku kemungkinan besar akan dicobai.
Aku tidak dapat berkata, “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”;
Jika aku tidak siap bertempur dalam peperangan rohani dengan perlengkapan senjata Allah.
Aku tidak dapat berkata, “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan”;
Jika aku tidak taat dan tertib dalam kesetiaan kepada sang Raja.
Aku tidak dapat berkata,”Dan kuasa”;
Jika aku merasa takut akan apa yang orang di sekelilingku kerjakan atau katakan kepadaku.
Aku tidak dapat berkata, “Dan kemuliaan”;
Jika aku mendahulukan untuk mencari kemuliaanku sendiri.
Aku tidak dapat berkata, “Sampai selama-lamanya”;
Jika aku khawatir tentang peristiwa-peristiwa pada tiap hari.
Aku tidak dapat berkata, “Amin”;
Jika aku tidak berkata dengan jujur,”membayar harga yang seharusnya, ini adalah doaku”.
“Tuhan itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengarNya.”
(Amsal 15:29)
Labels: Bapa, berdoa, Doa Bapa Kami, Naposo, NGKPA
Saturday, March 21, 2009
3 orang sahabat mengalami kecelakaan setelah merayakan pesta bujangan salah seorang diantara mereka. Rupanya minuman yang terlalu banyak membuat mereka mabuk dan tak mampu berkendaraan dengan baik. Untung bagi mereka, semuanya masuk surga lantaran telah menjalani hidupnya dengan baik. Di pintu surga mereka ditanyai seorang malaikat : ” Kalau Kalian bisa mendengar komentar orang-orang yang melayat, apa yang ingin Kalian dengar ? ”
Pemuda I : ” Saya ingin dipuji sebagai dokter sekaligus Ayah yang baik selama hidup Saya.”
Pemuda II : ” Kalau Saya ingin mendengar mereka berkata betapa Saya telah menjadi guru yang baik dan memberikan pengajaran yang baik untuk masa depan murid-murid. ”
Malaikat : ” Kamu bagaimana kok diam saja “, tanya malaikat kepada
Si Pemuda yang seharusnya menikah esok lusa.
Pemuda III : ” Saya tak ingin dipuji, Saya hanya ingin mereka berkata
“wow lihat dia akhirnya bergerak”
Friday, March 20, 2009

Oleh: John Owen
PENGANTAR
Pada kesempatan perayaan Hari PASKAH ini, saya tertarik untuk mengutipkan dua bab pendek dari buku klasik karya John Owen yang berjudul "The Death of Death in the Death of Christ". Dalam 2 bab ini dijelaskan tentang untuk siapa Kristus mati dan untuk tujuan apa Kristus mati.
Kiranya sebagian tulisan John Owen ini menolong kita untuk sekali lagi menyadari betapa pentingnya arti kematian Kristus bagi hidup kita masing-masing pribadi yang telah ditebus-Nya. Kematian Kristus bukan hanya menjadi fakta sejarah yang harus kita terima tetapi juga menjadi
fakta pembebasan kita dari kuasa dosa dan si jahat, dan sekaligus
menjadi kekuatan yang memungkinkan kita untuk hidup kudus di hadapan-Nya. Oleh karena kematian-Nya, maka kita sekarang boleh hidup dengan kuat kuasa-Nya!
BAB 2
UNTUK SIAPAKAH KRISTUS MATI?
Kita perlu memiliki kejelasan tentang untuk siapakah yang sebenarnya
mendapatkan manfaat dari kematian Kristus: Ada tiga kemungkinan:
1. Mungkin Allah Bapa, atau
2. Mungkin Kristus sendiri, atau
3. Mungkin kita
Ingatlah bahwa di sini saya sedang berbicara mengenai tujuan sekunder dari kematian Kristus; dengan pengertian ini, kita dapat menunjukkan bahwa kematian Kristus bukan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi
Allah Bapa.
Kadangkala ada pendapat yang menyatakan bahwa Kristus mati untuk memungkinkan Allah mengampuni orang-orang berdosa, seakan-akan jika tidak menggunakan cara demikian Allah tidak mampu mengampuni kita.
Pernyataan tersebut mengesankan bahwa tujuan sekunder kematian Kristus adalah untuk memberikan maanfaat kepada Bapa. Pandangan semacam ini tidak benar dan bodoh berdasarkan alasan-alasan berikut:
1. Hal itu berarti Kristus mati untuk membebaskan Allah Bapa dari hal-hal yang menghalangi-Nya untuk berbuat yang Ia inginkan (misal, mengampuni orang berdosa) ketimbang membebaskan kita dari dosa kita. Tetapi seluruh bagian Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa
Kristus mati untuk membebaskan kita dari dosa.
2. Pernyataan tersebut berarti bahwa tidak ada seorangpun yang secara aktual telah diselamatkan dari dosa. Jika Kristus hanya mendapatkan kebebasan dari Bapa mungkin menggunakan - atau tidak menggunakan kebebasan tersebut! Jadi kematian Kristus tidak secara aktual telah mendatangkan keselamatan kita. Namun Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Kristus benar-benar datang untuk menyelamatkan yang terhilang.
Berikutnya, kita dapat menunjukkan dengan pasti bahwa kematian Kristus bukan untuk memberikan manfaat bagi diri-Nya sendiri.
1. Karena Kristus adalah Allah, Ia telah memiliki semua kemuliaan dan kuasa yang dapat Ia miliki. Maka, di penghujung kehidupan-Nya di dunia, Ia tidak meminta kemuliaan lain selain kemuliaan yang telah Ia miliki sebelumnya (Yoh. 17:5). Ia tidak perlu mati untuk mendapatkan manfaat baru lainnya bagi diri-Nya sendiri.
2. Kadangkala muncul pendapat bahwa dengan kematian-Nya, Kristus
memperoleh hak untuk menjadi Hakim atas segala sesuatu. Tetapi jika tujuan kematian-Nya adalah demi mendapatkan kuasa untuk menghukum sebagian manusia, maka tidak mungkin Ia telah mati untuk
menyelamatkan mereka! Jadi sekalipun seandainya kita menerima
pendapat tersebut, kita tidak dapat menggunakannya untuk membuktikan bahwa Kristus mati untuk menyelamatkan seluruh manusia.
Karena itu, dapat kita simpulkan bahwa kematian Kristus pastilah
bertujuan untuk memberikan manfaat bagi kita. Kematian Kristus bukanlah supaya Bapa dapat menolong kita, jika Ia menginginkan. Bukan juga untuk mendapatkan beberapa manfaat baru bagi Kristus sendiri.
Oleh karena itu, pastilah bahwa kematian Kristus secara aktual
menghasilkan semua hal baik yang dijanjikan berdasarkan persetujuan-Nya dengan Bapa, yaitu untuk memberikan manfaat bagi mereka yang untuknya Ia telah mati. Jadi Ia mati hanya untuk mereka yang secara aktual menerima manfaat tersebut. Juga untuk membuktikan apa yang dikatakan Alkitab mengenal semua hal baik yang sekarang kita miliki.
Bab 3
APAKAH TUJUAN DARI KEMATIAN KRISTUS?
Kita akan mengulas tiga bagian ayat Alkitab yang berbicara mengenai apa yang dicapai melalui kematian Kristus.
Pertama, terdapat ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan apa yang Allah ingin kerjakan melalui kematian Kristus. Saya telah memilih delapan ayat untuk kita amati walaupun masih banyak ayat lain yang dapat kita lihat.
1. Lukas 19:10. "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan
menyelamatkan yang hilang."
Jelaslah bahwa Allah sungguh-sungguh bermaksud menyelamatkan yang terhilang melalui kematian Kristus.
2. Matius 1:21. "... engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah
yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
Segala hal yang perlu dilakukan untuk secara aktual menyelamatkan
orang-orang berdosa akan dilakukan oleh Yesus Kristus.
3. 1 Timotius 1:15. "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa."
Ayat ini tidak mengijinkan kita untuk beranggapan bahwa Kristus
datang semata-mata untuk membuat keselamatan orang-orang berdosa
dimungkinkan; ayat tersebut menegaskan bahwa Ia datang untuk secara aktual menyelamatkan mereka.
4. Ibrani 2:14, 15. "... supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jelan
demikian Ia membebaskan mereka... yang ... berada dalam perhambaan
..."
Apa lagi yang dapat lebih jelas dari ayat ini? Kristus datang untuk secara aktual membebaskan orang-orang berdosa.
5. Efesus 5:25-27. "Kristus telah mengasihi jemaat dan telah
menyerahkan diri-Nya baginya [jemaat] untuk menguduskannya ...
supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang ... kudus dan tidak bercela." Saya tidak dapat mengatakan yang lebih jelas daripada yang telah dikerjakan Roh Kudus dalam ayat ayat tersebut; Kristus mati untuk
menyucikan, menguduskan dan memuliakan gereja.
6. Yohanes 17:19. " ... Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran."
Tentu saja kita harus mendengar sang Penebus sendiri menyatakan
maksud kematian-Nya? Ia mati agar sebagian manusia (bukan seluruh
manusia, karena Ia tidak berdoa bagi seluruh manusia - ayat 9)
benar-benar dikuduskan.
7. Galatia 1:4. " ... yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita ..."
Sekali lagi, ayat ini menyatakan maksud kematian Kristus, yaitu
untuk secara aktual membebaskan kita.
8. 2 Korintus 5:21. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."
Demikianlah kita menjadi tahu bahwa Kristus datang supaya orang-
orang berdosa menjadi orang benar.
Dari semua ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa kematian Kristus
dimaksudkan untuk menyelamatkan, membebaskan, menguduskan dan
membenarkan semua yang untuknya Ia mati. Saya bertanya, apakah dengan demikian semua manusia akan diselamatkan, dibebaskan, dikuduskan dan dibenarkan? Ataukan Kristus telah gagal mencapai maksud-Nya? Karena
itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Kristus
mati untuk semua manusia, atau hanya untuk mereka yang secara aktual diselamatkan dan dibenarkan!
Kedua, terdapat ayat-ayat Alkitab yang berbicara bukan hanya mengenai apa maksud kematian Kristus, tetapi juga mengenai apa yang secara aktual telah dicapai oleh kematian tersebut. Saya telah memilih enam perikop:
1. Ibrani 9:12, 14. "dengan membawa darh-Nya sendiri ... Ia telah mendapat kelepasan yang kekal ... dan ... menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia."
Di sini disebutkan dua akibat langsung dari kematian Kristus -
kelepasan yang kekal dan hati nurani yang disucikan. Barangsiapa
memiliki hal-hal yang tersebut adalah salah seorang dari mereka
yang untuknya Kristus mati.
2. Ibrani 1:3. "Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Maha-besar, di tempat yang tinggi."
Jadi ada penyucian rohani bagi mereka yang untuknya Kristus mati.
3. 1 Petrus 2:24. "Ia sendiri telah memikul dosa kita."
Di sini kita mendapatkan pernyataan mengenai apa yang dilakukan Kristus - Ia memikul dosa kita di atas kayu salib.
4. Kolose 1:21,22. "Juga kamu ... sekarang diperdamaikan-Nya ..."
Suatu keadaan damai secara aktual telah tercapai antara mereka yang
untuknya Ia telah mati dengan Allah Bapa.
5. Wahyu 5:9-10. "Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam ..."
Jelas ayat-ayat ini berbicara mengenai apa yang terjadi kepada
mereka yang untuknya Kristus mati, bukan mengenai semua manusia.
6. Yohanes 10:28. "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka ..."
Kristus sendiri menjelaskan bahwa hidup diberikan kepada domba-
domba-Nya (ayat 27). Kehidupan rohani yang dinikmati orang-orang
percaya didapati mereka melalui kematian Kristus.
Dari keenam ayat-ayat ini (dan masih banyak lagi yang digunakan), kita dapat mengatakan bahwa jika kematian Kristus secara aktual membawa pembebasan, pembersihan, penyucian, penghapusan dosa, perdamaian,
hidup kekal dan kewarganegaraan surgawi, maka Ia pasti telah mati
hanya untuk mereka yang benar-benar mendapatkan hal-hal tersebut.
Jelas, bahwa tidak semua orang memperoleh semua anugerah tersebut! Oleh karena itu tidak mungkin kematian Kristus bertujuan untuk keselamatan seluruh manusia.
Ketiga, ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan mengenai orang-orang yang untuknya Kristus mati, dimana mereka sering disebut "banyak" - contohnya: Yesaya 53:11; Markus 10:45; Ibrani 2:10. Tetapi kata-kata
"banyak" ini di banyak ayat Alkitab juga disebut sebagai:
Domba-domba Kristus Yohanes 10:15
Anak-anak Allah Yohanes 11:52
Anak-anak yang telah diberikan
Allah kepada Kristus Yohanes 17:9; Ibrani 2:13
Umat pilihan Roma 8:33
Umat yang dipilih Allah Roma 11:2
Jemaat Allah Kisah 20:28
Mereka yang dosanya ditanggung-Nya Ibrani 9:28
Sebutan-sebutan semacam itu tentu saja tidak ditujukan pada semua
manusia. Jadi anda lihat bahwa tujuan kematian Kristus seperti yang tertuang dalam Alkitab, tidak dimaksudkan bagi keselamatan setiap manusia.
Sumber:
Judul Buku : Kematian yang Menghidupkan (The Death of Death in the Death of Christ)
Judul Bagian : Tujuan Sebenarnya dari Kematian Kristus;
Apa yang Telah Ia Capai
Judul Artikel: Bab 2: Untuk Siapakah Kristus Mati? ;
Bab 3: Apakah Tujuan dari Kristus Mati?
Penulis : John Owen
Penerbit : Momentum
Halaman : 47 - 55
Labels: Death of Christ, John Owen, Kristus, Medan Timur, NGKPA, Paskah, Untuk Siapa Kristus Mati