Showing posts with label Medan Timur. Show all posts
Showing posts with label Medan Timur. Show all posts

Wednesday, October 7, 2009

Hari I Kongres

wah..wah..wah..udah lama juga blog ini ga di update ya..
maaf ya kawan2 yang udah datang ke blog ini masih baca postingan yang udah basi...^_^


okay deh...sekarang aq mau ceritain tentang pengalaman kami menuju kongres ke-VII NGKPA.
Kami naposobulung utusan dari Resort Medan Timur berangkat sebanyak 16 orang. Untuk peserta kongres berangkat sebanyak 5 orang yaitu:
* Asnawi Krismastopo Harahap, S.Hut (Parlagutan Medan Timur)
* Sabat H.K Siregar, SP (Parlagutan Medan Timur)
* Jhansen Fransisco Pospos (Parlagutan Mandala)
* Febry Anne br Gultom (Parlagutan Mandala)
* Lerna br Pasaribu (Parlagutan Mandala)

para peserta yang lain menyusul pada tanggal 02 Oktober 2009.

Para peserta yang berangkat pada gelombang yang pertama menginap di kantor pusat bersama dengan para peserta dari resort yang lain. Hari pertama saja perasaan ini sudah begitu gembiranya bisa bertemu kembali dengan teman2 dari resort yang lain.

Oke deh itu dulu yg aku posting, lagi ada panggilan darurat neh...SYALOOMMM!!!!


Friday, July 10, 2009


Matius 15:21-28 “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” (Lukas 18:7a)

Berdoalah sampai sesuatu terjadi…

Banyak orang datang kepada Yesus untuk menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka tetapi tidak semua orang dapat bertahan dalam menanti jawaban Tuhan. Apalagi jika harus melewati tantangan... tantangan waktu, harga diri, atau pun orang-orang dekat yang nampak sama sekali tidak mendukung. Hal-hal ini dapat membuat kita patah semangat, memilih untuk mundur bahkan mungkin mulai berpikir untuk mencari jalan keluar… selain Yesus.


Wanita Kanaan dalam Matius 15:21-28 memiliki pergumulan berat. Dia adalah seorang wanita yang berasal dari bangsa yang tidak percaya kepada Yesus. Tetapi waktu dia mengetahui Yesus ada didaerahnya, wanita ini datang dan mulai berseru kepada Yesus. Hanya satu yang dia inginkan, yaitu anaknya sembuh. Tetapi tidak semudah yang mungkin dia bayangkan… karna ternyata, Yesus sama sekali tidak menjawab seruannya… bahkan mungkin saja saat itu Yesus tidak menengok sedikit pun pada wanita ini. Ditambah lagi dengan sikap murid-murid yang malah meminta Yesus agar menyuruh wanita ini pergi, karena merasa terganggu dengan teriakannya.

Hari-hari ini, disaat kita mengalami pergumulan berat, terkadang justru hadir orang-orang yang sepertinya bisa memberi jalan keluar, tetapi sesungguhnya mereka sementara membuat kita menjadi lemah dalam pengharapan kepada Tuhan. Tanpa disadari sikap dan keinginan mereka sebenarnya bertujuan untuk meminta kita berhenti saja berharap dan lebih baik mencari jalan keluar yang lain yang lebih aman tanpa harus capek berseru-seru kepada Tuhan, karena masalah yang kita hadapi sangat besar dan seakan mustahil untuk terus berharap kepada Tuhan dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menanti. Ya! Orang-orang tersebut seperti murid-murid Yesus yang sebenar merasa terganggu “kenyamannya” karena melihat keteguhan wanita ini dalam menanti pertolongan Tuhan.

Namun diperlakukan demikian tidak membuat wanita ini berhenti, bahkan disaat Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia datang hanya untuk umat Israel pun, tetap membuat wanita ini pantang mundur (ayat 24). Dia malah semakin mendekati dan menyembah Yesus sambil berkata “Tuhan, tolonglah aku”. Tetapi Yesus malah menjawab “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Seakan Yesus mau mengatakan, “kuasa yang ada pada-KU ini hanya untuk "anak-anak" yaitu mereka yang pantas menerimanya, sedangkan kamu itu hanyalah seekor anjing. Pantaskah Aku memberikannya kepadamu?”

Sebenarnya inilah titik dimana wanita ini harus mundur dan berhenti berharap. Karena Yesus sendiri sudah mengatakan bahwa “tidak patut” engkau mendapat pertolongan itu, karena yang ada pada-Ku milik “anak-anak” dan bukan “anjing”.

Namun perkataan yang sangat “menghinakan” itu diterima olehnya bahkan dengan merendahkan dirinya ia berkata “ benar Tuhan, namun ANJING ITU makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”(ayat 27).

Perhatikan, perkataan wanita ini “ANJING ITU!”. Seakan dialah anjing itu yang bersedia memakan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya, dan percaya bahwa walaupun hanya remah-remah… tetapi kalau itu berasal dari Yesus maka itu pun akan sanggup untuk menjawab apa yang menjadi kebutuhannya.
Wanita ini bersedia merendahkan dirinya karena dia memiliki iman yang sungguh bahwa Yesus sanggup untuk menjawab pergumulannya. Dia tidak mudah menyerah, dia tidak mundur, dan tidak pergi sebelum pergumulannya terjawab.

Dan akhirnya Yesus mengakui keteguhan wanita ini, kemudian berkata “ Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.”

Saudara, sampai sejauh mana engkau berseru kepada Tuhan untuk pergumulan yang sedang engkau hadapi? Dan ketika engkau merasa banyak orang tidak mendukungmu untuk terus berharap, bahkan mungkin Yesus pun seakan “tetap diam.” Apa yang engkau lakukan? Mundur… kecewa… dan tidak mau lagi berharap???

Kalau wanita Kanaan yang berasal dari bangsa yang tidak percaya saja bisa menyentuh hati Yesus karena keyakinan dan keteguhannya, apalagi kita yang adalah anak-anak-Nya yang telah ditebus dengan darah-Nya yang kudus. Tidakkah ia akan menjawab seruan doa kita.?
Jangan pernah berhenti berseru… sampai Dia memberikan belas kasihan-Nya dan menjawab doamu.(PN)

Tuesday, July 7, 2009

Seekor anjing, berada di tengah jalan menjaga anjing lain yg mati karena tertabrak mobil. Dengan menggunakan kakinya, anjing tersebut berusaha membangunkan temannya.Dia terus berusaha mendorong temannya yg telah mati ke menepi ke sisi lain jalan, tetapi dia tidak sanggup melakukannya. Ketika orang-orang mau menolongnya, dia menyalak, mengusir mereka yg mendekati temannya yg telah mati.Walaupun lalulintas padat, dia tetap tidak mau menjauh dari sahabatnya.Banyak orang yg menyaksikan kejadian dan sangat mengharukan, betapa seekor anjing saja bisa menunjukan kesetiaan terhadap sahabatnya...







Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menghargai teman dan sahabat Anda selama Anda masih hidup?

Teman itu seperti balon, sekali dilepas mungkin kita tidak akan mendapatkannya kembali.

Terkadang kita terlalu mempermasalahkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita terlalu berpatokan pada prinsip "Yang salah harus meminta maaf pada yang benar." Seringkali kita tidak mau meminta maaf pada sahabat kita hanya lantaran kita merasa paling benar sendiri atau gengsi. Padahal sebenarnya dalam bersahabat, tidak peduli siapapun yang salah, keduanya harus saling meminta maaf dan memaafkan.

Terkadang kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri hingga tidak sadar kalau kita tidak menghiraukan teman kita. Mungkin saat itu mereka sedang ada masalah dan butuh kita, sedangkan kita sendiri terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Kalau sudah begitu, jangan salahkan kalau Anda tidak akan punya sahabat sejati seumur hidup Anda.

Berikan yang terbaik kepada teman-teman dan sahabat-sahabat kita. Jangan kecewakan mereka. Berusahalah untuk menjadi seorang teman dan sahabat bagi orang lain. Jangan menuntut sahabat Anda. Hingga suatu hari ketika Anda tidak ada, maka akan ada banyak orang yang akan menangisi kepergian Anda.

(Sumber : www.rumahrenungan.com )

Monday, July 6, 2009

YUSUF dan ISTRI POTIFAR


Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar
Kejadian 39:12

Bacaan: Kejadian 39:1-23
Setahun: Yosua 1-3

Seorang ayah menemukan majalah porno di kamar anak laki-lakinya yang masih remaja. Ia sangat terkejut. Dibukanya majalah itu. “Ya, ampun!” serunya dengan mata terbelalak. Lalu dibukanya lagi. “Ya, Tuhan!” ia makin kaget. Dan, ia terus membukanya. Sampai di halaman terakhir, “Ya, habis!” serunya pula. Itu hanya cerita humor. Humor itu hendak menunjukkan kebiasaan orang, yang saat tahu bahwa sesuatu itu dosa, bukannya menjauh, tetapi malah sengaja mendekat dan mencoba-coba.



Yusuf tidak bersikap demikian terhadap dosa. Ia terus digoda oleh istri Potifar, tetapi dengan tegas ia menolak. “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (ayat 8,9). Sampai suatu hari, pada saat di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, godaan itu datang lagi. Dan, apa yang dilakukan Yusuf? Yusuf pun lari keluar (ayat 12).

Kita perlu meniru Yusuf yang berani bersikap tegas terhadap dosa. Lari keluar. Menjauh. Tidak lari di tempat, apalagi lari mendekat. Iblis sangat cerdik. Ketika kita belum jatuh, ia terus-menerus menggoda kita, “Ayolah, sekali-kali tidak apa-apa.” Akan tetapi, begitu kita terjatuh Iblis akan berkata kepada kita, “Yah, sudah telanjur jatuh. Sudahlah, ibarat kepalang basah, mandi saja sekalian!” —AYA

JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN DOSA

Kejadian 39:1-23
39:1 Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ.
39:2 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.
39:3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,
39:4 maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.
39:5 Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.
39:6 Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.
39:7 Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku."
39:8 Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,
39:9 bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"
39:10 Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.
39:11 Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah.
39:12 Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.
39:13 Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar,
39:14 dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: "Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras.
39:15 Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar."
39:16 Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang.
39:17 Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: "Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku.
39:18 Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar."
39:19 Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya.
39:20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.
39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
39:22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
39:23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

sumber : cute_charity (http://forum.wgaul.com/)

Saturday, July 4, 2009

Perpuluhan Pelajar, HARUSKAH??


Aku pernah mendengar penatua di gereja GKPA mengatakan kita harus memberikan perpuluhan, akan tetapi saya masih seorang pelajar dan belum mempunyai penghasilan, aku jadi bertanya-tanya, apakah perintah untuk memberi persepuluhan berlaku juga bagi pelajar? Apa yang saya tanyakan, mungkin juga bercokol di benak kita. Sebetulnya, apa sih yang dimaksud dengan persepuluhan itu?

Menurut teologian Jake Barnett, persepuluhan atau memberikan 10 % (sepersepuluh) dari penghasilan, telah dikenal sejak jaman dulu. Abraham dan Yakub adalah tokoh-tokoh di Alkitab yang secara sukarela memberi atau menyisihkan sepersepuluh dari pendapatan mereka untuk pekejaan Tuhan. Hukum Taurat menegaskan, bahwa bila bangsa Israel menggunakan persepuluhan ini bagi diri mereka sendiri (bukan untuk pekerjaan Tuhan), maka ini berarti mereka telah mencuri dari Allah.


Yang dimaksud memberi untuk pekerjaan Tuhan—dalam tradisi bangsa Yahudi—yakni memberi untuk kebaktian, termasuk pembangunan bait Allah dan fasilitasnya. Kemudian, memberi untuk hamba-hamba Allah, para imam, dan orang-orang Lewi. Dalam bangsa Israel, orang-orang yang disebutkan tadi, dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya apabila dibebaskan dari keharusan mencari makan. Lalu, memberi untuk pekerjaan Tuhan juga berarti memberi untuk orang miskin. Di Alkitab, orang-orang miskin berhak atas pemberian dari Israel.

Jika dianalogikan dengan masa kini, ini berarti memberi untuk gereja Tuhan. Lalu untuk para pemuka, pendeta, guru Injil, pokoknya setiap orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mengurusi jemaat. Kemudian untuk orang miskin dan pelayanan pekabaran injil.

Di kitab perjanjian baru, Yesus hanya sekali menggunakan kata persepuluhan, saat ia berbicara dengan kaum Farisi, “… persepuluhan dari selasih, ada manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan…” demikian yang tertulis dalam kitab Matius. Sedangkan Paulus, meski sering menekankan mengenai pemberian dalam ajarannya, tidak pernah menggunakan kata persepuluhan.

Ukuran sepersepuluh, menurut Barnett, adalah ukuran yang sangat bagus untuk memulai kebiasaan memberi (bagi pekerjaan Tuhan), tapi ini bukan satu-satunya patokan yang diajarkan Alkitab mengenai pemberian. Dalam perjanjian baru, konsep mengenai pemberian tidak sekadar dibatasi oleh sepersepuluh dari penghasilan, tetapi lebih dari itu seperti yang dikatakan Paulus kepada jemaat di Korintus, bahwa pemberian harus sebanding dengan pendapatan dan kemampuan mereka untuk memberi.

Omong-omong, Alkitab tidak pernah menyinggung mengenai apakah pelajar diwajibkan untuk memberi atau tidak. Jadi, sah-sah saja kalau kamu ingin memberi kepada Tuhan, dengan menyisihkan sebagian dari uang saku. Dan, jumlah pemberiannya tidak hanya dibatasi pada sepersepuluh—kalau sanggup—bahkan lebih dari itu. Lagi pula, di atas semua itu, kamu dituntut untuk tidak sekadar memberi uang melainkan juga tubuhmu, “… supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Wednesday, May 27, 2009

Kisah Tentang Seorang Pengemis

Suatu ketika di sebuah gurun pasir yang sangat panas dan kering ada seorang pengemis yang protes atau ngomel-ngomel. Si pengemis berbicara dalam hatinya dan memohon belas kasihan dari Tuhan siang itu. Ia mengatakan bila Engkau Tuhan Maha Pengasih mengapa engkau tidak memberiku sepasang sandal yang bisa aku gunakan di padang pasir yang panas dan kering ini. sambil berjalan si Pengemis ini mengumpat dan bertanya-tanya mengapa juga Tuhan tidak memberikan sepasanag sandal buatku.


Ketika dia berjalan di sepanjang gurun tersebut tiba-tiba dia melihat sesosok tubuh yang bergerak di atas pasir gurun yang panas itu. Setelah ia perhatikan dengan seksama tubuh tersebut betapa kagetnya dia, ternyata itu adalah seorang manusia yang tidak mempunyai kedua belah kaki dan tangan namun dengan tekad yang kuat dia ingin berjalan melewati gurun yang panas itu ke suatu tempat yang lebih teduh. Sambil berguling-guling (karena tidak mempunyai kaki dan tangan) orang tersebut melewati gurun itu dengan sabar sejengkal demi sejengkal.

Melihat kenyataan tersebut di depan matanya, kemudian si Pengemis dengan cepat bertekuk lutut sambil menangis kehadapan Tuhan. Dengan air mata yang berlinang si pengemis memohon ampun atas omelan yang ia katakan tadi kepada Tuhan. Dengan sujudnya itu si pemgemis mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena setidaknya ia memiliki kedua tangan dan kaki yang lengkap untuk bisa berjalan tanpa harus berguling-guling seperti orang yang ia lihat.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bagaiamana kita harus selalu pasrah dan menerima apa yang Tuhan telah berikan kepada kita untuk kita jalani di kehidupan ini. Janganlah selalu melihat ke atas atau melihat orang yang mampu secara ekonomi lalu kita membandingkan kepada diri kita sendiri dengan menyatakan bahwa kita adalah orang yang miskin. Ketahuilah tiada seorangpun yang miskin di dunia ini, manusia adalah mahluk tertinggi atau puncak ciptaan dari seluruh ciptaan yang ada, dengan tubuh inilah kita bisa menghyati dan kembali kepada Tuhan. Tanpa tubuh manusia penghayatan akan Tuhan adalah mustahil.

Tuhan, ayah kita mengetahui apa yang terbaik buat diri kita janganlah kita meminta materi dan segala ciptaanya yang bisa menjerumuskan kita nantinya. Mintalah Tuhan sendiri untuk bersemayam di dalam diri kita sehingga seluruh ciptaan akan menjadi milik kita. Bila kita tidak tahu apa yang terbaik untuk diri kita bagaiamana mungkin kita bisa memohon dan mendoakan orang lain untuk suatu kedamaian, kesejahteraan, rezeki dll????

Wednesday, April 15, 2009

Semua butuh Proses.."


Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Maka, sang petani ada kalanya harus menyimpannya kembali beberapa saat menunggu hingga matang semuanya.

Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, kelak akan memiliki rasa yang sama yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang pada pisang berbeda-beda…

Begitulah kita tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu, ia butuh waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan belum sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya, hasil yang didapatkan tetap dapat dirasakan.


Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan. Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidaksamaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu.

Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita, maka janganlah rendah diri…semua butuh proses menjadi lebih baik.

I Yohanes 2:5 Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.

Filipi 3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Sumber : http://www.krenungan.org/


Friday, March 20, 2009

Tujuan Kematian Kristus


Oleh: John Owen

PENGANTAR

Pada kesempatan perayaan Hari PASKAH ini, saya tertarik untuk mengutipkan dua bab pendek dari buku klasik karya John Owen yang berjudul "The Death of Death in the Death of Christ". Dalam 2 bab ini dijelaskan tentang untuk siapa Kristus mati dan untuk tujuan apa Kristus mati.

Kiranya sebagian tulisan John Owen ini menolong kita untuk sekali lagi menyadari betapa pentingnya arti kematian Kristus bagi hidup kita masing-masing pribadi yang telah ditebus-Nya. Kematian Kristus bukan hanya menjadi fakta sejarah yang harus kita terima tetapi juga menjadi
fakta pembebasan kita dari kuasa dosa dan si jahat, dan sekaligus
menjadi kekuatan yang memungkinkan kita untuk hidup kudus di hadapan-Nya. Oleh karena kematian-Nya, maka kita sekarang boleh hidup dengan kuat kuasa-Nya!


BAB 2
UNTUK SIAPAKAH KRISTUS MATI?

Kita perlu memiliki kejelasan tentang untuk siapakah yang sebenarnya
mendapatkan manfaat dari kematian Kristus: Ada tiga kemungkinan:

1. Mungkin Allah Bapa, atau
2. Mungkin Kristus sendiri, atau
3. Mungkin kita
Ingatlah bahwa di sini saya sedang berbicara mengenai tujuan sekunder dari kematian Kristus; dengan pengertian ini, kita dapat menunjukkan bahwa kematian Kristus bukan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi
Allah Bapa.

Kadangkala ada pendapat yang menyatakan bahwa Kristus mati untuk memungkinkan Allah mengampuni orang-orang berdosa, seakan-akan jika tidak menggunakan cara demikian Allah tidak mampu mengampuni kita.
Pernyataan tersebut mengesankan bahwa tujuan sekunder kematian Kristus adalah untuk memberikan maanfaat kepada Bapa. Pandangan semacam ini tidak benar dan bodoh berdasarkan alasan-alasan berikut:

1. Hal itu berarti Kristus mati untuk membebaskan Allah Bapa dari hal-hal yang menghalangi-Nya untuk berbuat yang Ia inginkan (misal, mengampuni orang berdosa) ketimbang membebaskan kita dari dosa kita. Tetapi seluruh bagian Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa
Kristus mati untuk membebaskan kita dari dosa.
2. Pernyataan tersebut berarti bahwa tidak ada seorangpun yang secara aktual telah diselamatkan dari dosa. Jika Kristus hanya mendapatkan kebebasan dari Bapa mungkin menggunakan - atau tidak menggunakan kebebasan tersebut! Jadi kematian Kristus tidak secara aktual telah mendatangkan keselamatan kita. Namun Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Kristus benar-benar datang untuk menyelamatkan yang terhilang.

Berikutnya, kita dapat menunjukkan dengan pasti bahwa kematian Kristus bukan untuk memberikan manfaat bagi diri-Nya sendiri.

1. Karena Kristus adalah Allah, Ia telah memiliki semua kemuliaan dan kuasa yang dapat Ia miliki. Maka, di penghujung kehidupan-Nya di dunia, Ia tidak meminta kemuliaan lain selain kemuliaan yang telah Ia miliki sebelumnya (Yoh. 17:5). Ia tidak perlu mati untuk mendapatkan manfaat baru lainnya bagi diri-Nya sendiri.

2. Kadangkala muncul pendapat bahwa dengan kematian-Nya, Kristus
memperoleh hak untuk menjadi Hakim atas segala sesuatu. Tetapi jika tujuan kematian-Nya adalah demi mendapatkan kuasa untuk menghukum sebagian manusia, maka tidak mungkin Ia telah mati untuk
menyelamatkan mereka! Jadi sekalipun seandainya kita menerima
pendapat tersebut, kita tidak dapat menggunakannya untuk membuktikan bahwa Kristus mati untuk menyelamatkan seluruh manusia.

Karena itu, dapat kita simpulkan bahwa kematian Kristus pastilah
bertujuan untuk memberikan manfaat bagi kita. Kematian Kristus bukanlah supaya Bapa dapat menolong kita, jika Ia menginginkan. Bukan juga untuk mendapatkan beberapa manfaat baru bagi Kristus sendiri.

Oleh karena itu, pastilah bahwa kematian Kristus secara aktual
menghasilkan semua hal baik yang dijanjikan berdasarkan persetujuan-Nya dengan Bapa, yaitu untuk memberikan manfaat bagi mereka yang untuknya Ia telah mati. Jadi Ia mati hanya untuk mereka yang secara aktual menerima manfaat tersebut. Juga untuk membuktikan apa yang dikatakan Alkitab mengenal semua hal baik yang sekarang kita miliki.

Bab 3
APAKAH TUJUAN DARI KEMATIAN KRISTUS?

Kita akan mengulas tiga bagian ayat Alkitab yang berbicara mengenai apa yang dicapai melalui kematian Kristus.

Pertama, terdapat ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan apa yang Allah ingin kerjakan melalui kematian Kristus. Saya telah memilih delapan ayat untuk kita amati walaupun masih banyak ayat lain yang dapat kita lihat.

1. Lukas 19:10. "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan
menyelamatkan yang hilang."

Jelaslah bahwa Allah sungguh-sungguh bermaksud menyelamatkan yang terhilang melalui kematian Kristus.

2. Matius 1:21. "... engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah
yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

Segala hal yang perlu dilakukan untuk secara aktual menyelamatkan
orang-orang berdosa akan dilakukan oleh Yesus Kristus.

3. 1 Timotius 1:15. "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa."

Ayat ini tidak mengijinkan kita untuk beranggapan bahwa Kristus
datang semata-mata untuk membuat keselamatan orang-orang berdosa
dimungkinkan; ayat tersebut menegaskan bahwa Ia datang untuk secara aktual menyelamatkan mereka.

4. Ibrani 2:14, 15. "... supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jelan
demikian Ia membebaskan mereka... yang ... berada dalam perhambaan
..."

Apa lagi yang dapat lebih jelas dari ayat ini? Kristus datang untuk secara aktual membebaskan orang-orang berdosa.

5. Efesus 5:25-27. "Kristus telah mengasihi jemaat dan telah
menyerahkan diri-Nya baginya [jemaat] untuk menguduskannya ...
supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang ... kudus dan tidak bercela." Saya tidak dapat mengatakan yang lebih jelas daripada yang telah dikerjakan Roh Kudus dalam ayat ayat tersebut; Kristus mati untuk
menyucikan, menguduskan dan memuliakan gereja.

6. Yohanes 17:19. " ... Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran."

Tentu saja kita harus mendengar sang Penebus sendiri menyatakan
maksud kematian-Nya? Ia mati agar sebagian manusia (bukan seluruh
manusia, karena Ia tidak berdoa bagi seluruh manusia - ayat 9)
benar-benar dikuduskan.

7. Galatia 1:4. " ... yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita ..."

Sekali lagi, ayat ini menyatakan maksud kematian Kristus, yaitu
untuk secara aktual membebaskan kita.

8. 2 Korintus 5:21. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."

Demikianlah kita menjadi tahu bahwa Kristus datang supaya orang-
orang berdosa menjadi orang benar.

Dari semua ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa kematian Kristus
dimaksudkan untuk menyelamatkan, membebaskan, menguduskan dan
membenarkan semua yang untuknya Ia mati. Saya bertanya, apakah dengan demikian semua manusia akan diselamatkan, dibebaskan, dikuduskan dan dibenarkan? Ataukan Kristus telah gagal mencapai maksud-Nya? Karena
itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Kristus
mati untuk semua manusia, atau hanya untuk mereka yang secara aktual diselamatkan dan dibenarkan!

Kedua, terdapat ayat-ayat Alkitab yang berbicara bukan hanya mengenai apa maksud kematian Kristus, tetapi juga mengenai apa yang secara aktual telah dicapai oleh kematian tersebut. Saya telah memilih enam perikop:

1. Ibrani 9:12, 14. "dengan membawa darh-Nya sendiri ... Ia telah mendapat kelepasan yang kekal ... dan ... menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia."

Di sini disebutkan dua akibat langsung dari kematian Kristus -
kelepasan yang kekal dan hati nurani yang disucikan. Barangsiapa
memiliki hal-hal yang tersebut adalah salah seorang dari mereka
yang untuknya Kristus mati.

2. Ibrani 1:3. "Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Maha-besar, di tempat yang tinggi."

Jadi ada penyucian rohani bagi mereka yang untuknya Kristus mati.

3. 1 Petrus 2:24. "Ia sendiri telah memikul dosa kita."

Di sini kita mendapatkan pernyataan mengenai apa yang dilakukan Kristus - Ia memikul dosa kita di atas kayu salib.

4. Kolose 1:21,22. "Juga kamu ... sekarang diperdamaikan-Nya ..."
Suatu keadaan damai secara aktual telah tercapai antara mereka yang
untuknya Ia telah mati dengan Allah Bapa.

5. Wahyu 5:9-10. "Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam ..."

Jelas ayat-ayat ini berbicara mengenai apa yang terjadi kepada
mereka yang untuknya Kristus mati, bukan mengenai semua manusia.

6. Yohanes 10:28. "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka ..."

Kristus sendiri menjelaskan bahwa hidup diberikan kepada domba-
domba-Nya (ayat 27). Kehidupan rohani yang dinikmati orang-orang
percaya didapati mereka melalui kematian Kristus.

Dari keenam ayat-ayat ini (dan masih banyak lagi yang digunakan), kita dapat mengatakan bahwa jika kematian Kristus secara aktual membawa pembebasan, pembersihan, penyucian, penghapusan dosa, perdamaian,
hidup kekal dan kewarganegaraan surgawi, maka Ia pasti telah mati
hanya untuk mereka yang benar-benar mendapatkan hal-hal tersebut.

Jelas, bahwa tidak semua orang memperoleh semua anugerah tersebut! Oleh karena itu tidak mungkin kematian Kristus bertujuan untuk keselamatan seluruh manusia.

Ketiga, ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan mengenai orang-orang yang untuknya Kristus mati, dimana mereka sering disebut "banyak" - contohnya: Yesaya 53:11; Markus 10:45; Ibrani 2:10. Tetapi kata-kata
"banyak" ini di banyak ayat Alkitab juga disebut sebagai:

Domba-domba Kristus Yohanes 10:15
Anak-anak Allah Yohanes 11:52
Anak-anak yang telah diberikan
Allah kepada Kristus Yohanes 17:9; Ibrani 2:13
Umat pilihan Roma 8:33
Umat yang dipilih Allah Roma 11:2
Jemaat Allah Kisah 20:28
Mereka yang dosanya ditanggung-Nya Ibrani 9:28

Sebutan-sebutan semacam itu tentu saja tidak ditujukan pada semua
manusia. Jadi anda lihat bahwa tujuan kematian Kristus seperti yang tertuang dalam Alkitab, tidak dimaksudkan bagi keselamatan setiap manusia.



Sumber:
Judul Buku : Kematian yang Menghidupkan (The Death of Death in the Death of Christ)
Judul Bagian : Tujuan Sebenarnya dari Kematian Kristus;
Apa yang Telah Ia Capai
Judul Artikel: Bab 2: Untuk Siapakah Kristus Mati? ;
Bab 3: Apakah Tujuan dari Kristus Mati?
Penulis : John Owen
Penerbit : Momentum
Halaman : 47 - 55