Tuesday, June 30, 2009

Mazmur 27:10
Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.
Beberapa orang tampaknya terobsesi dengan merendahkan orang lain; mereka membicarakan hal-hal yang negatif tentang Anda atau seseorang yang Anda kasihi, atau sesuatu yang Anda minati. Anda tidak selalu dapat mengabaikan masukan negatif, tetapi jangan biarkan orang, sistem atau keadaan-keadaan lain mempengaruhi perkiraan Anda tentang nilai Anda.
Sayangnya, Anda mungkin telah mengalami pengalaman-pengalaman traumatis yang menyakitkan saat seseorang memperlakukan Anda tidak adil, mengambil keuntungan dari Anda dan menolak Anda. Mungkin suami atau isteri Anda meninggalkan Anda dan Anda mengalami perceraian yang pahit. Mungkin seorang sahabat baik berpaling dari Anda tanpa alasan apa pun, dan sekarang Anda merasa sendirian serta tidak berharga. Atau, mungkin Anda merasa tertolak sebagai seorang anak, dan Anda sedang menjalani kehidupan dengan perasaan-perasaan bersalah dan malu. Mungkin Anda bahkan telah meyakinkan diri sendiri bahwa hal-hal negatif yang terjadi pada masa lalu Anda seluruhnya adalah kesalahan Anda, bahwa Anda tidak layak menerima apa pun selain sakit hati, penderitaan, rasa bersalah dan penghukuman.
dikutip dari http://www.cerita-kristen.com/
Labels: berkat, bijaksana, cerita rohani, GKPA, motivasi, Naposo, NGKPA, Semua butuh Proses
Wednesday, April 15, 2009

Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Maka, sang petani ada kalanya harus menyimpannya kembali beberapa saat menunggu hingga matang semuanya.
Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, kelak akan memiliki rasa yang sama yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang pada pisang berbeda-beda…
Begitulah kita tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu, ia butuh waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan belum sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya, hasil yang didapatkan tetap dapat dirasakan.
Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan. Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidaksamaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu.
Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita, maka janganlah rendah diri…semua butuh proses menjadi lebih baik.
I Yohanes 2:5 Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.
Filipi 3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Sumber : http://www.krenungan.org/
Labels: agama, Allah, bijaksana, cerita rohani, GKPA, Kristus, Medan Timur, NGPKA, Proses, renungan harian, Semua butuh Proses, Waktu
Thursday, March 5, 2009

Konon, ada seorang raja muda yang pandai.
Ia memerintahkan semua mahaguru terkemuka dalam kerajaannya untuk berkumpul dan menulis semua kebijaksanaan dunia ini. Mereka segera mengerjakannya dan empat puluh tahun kemudian, mereka telah menghasilkan ribuan buku berisi kebijaksanaan. Raja itu, yang pada saat itu telah mencapai usia enam puluh tahun, berkata kepada mereka, "Saya tidak mungkin dapat membaca ribuan buku. Ringkaslah dasar-dasar semua kebijaksanaan itu."
Setelah sepuluh tahun bekerja, para mahaguru itu berhasil meringkas seluruh kebijaksanaan dunia dalam seratus jilid.
"Itu masih terlalu banyak," kata sang raja. "Saya telah berusia tujuh puluh tahun. Peraslah semua kebijaksanaan itu ke dalam inti yang paling dasariah.
Maka orang-orang bijak itu mencoba lagi dan memeras semua kebijaksanaan di dunia ini ke dalam hanya satu buku.
Tapi pada waktu itu raja berbaring di tempat tidur kematiannya.
Maka pemimpin kelompok mahaguru itu memeras lagi kebijaksanaan-kebijaksanaan itu ke dalam hanya satu pernyataan,
"Manusia hidup, lalu menderita, kemudian mati. Satu-satunya hal yang tetap bertahan adalah cinta."